Rabu, 28 Oktober 2020

Sintesis antar materi Pembelajaran 1 s.d 6 Modul 1.1 Calon Guru Penggerak 2020

Kesimpulan Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara

Serangkaian materi dan tugas pada modul 1.1 telah dilalui para calon Guru Penggerak 2020 tahap I. Catatan singkat tentang tiap pembelajaran yaitu; Pembelajaran 1: Mulai diri (pengenalan sosok KHD selama ini), Pembelajaran 2: Diskusi tentang filosofi pendidikan KHD, Pembeajaran 3: Ruang Kolaborasi (mengidentifikasi prinsip pembelajaran dari pemikiran KHD yang sesuai dengan konteks daerah atau di sekolah), Pembelajaran 4: Peserta mampu merefleksikan pemikiran KHD sebagai pengetahuan dan pengalaman baru dalam pembelajaran (penerapan di sekolah), Pembelajaran 5: Demonstrasi Kontekstual (Poster, dan media lain) Pendidikan KHD, dan Pembelajaran 6: Belajar dari sekolah yang menginspirasi dengan pemikiran KHD, Merdeka Belajar dan Profil Pelajar Pancasila.

Berikut Sintesis antar materi Pembelajaran 1 s.d 6 Modul 1.1 Calon Guru Penggerak.

Ki Hadjar Dewantara menjadi sosok yang seharusnya menjadi panutan bagi setiap pendidik saat ini. Sistem Pendidikan dan pengajaran yang diterapkan sangat memuliakan peserta didik. Bahkan, Ki Hadjar Dewantara mengatakan untuk “menghamba” kepada peserta didik. KHD pun berpikiran bahwa posisi peserta didik adalah seorang yang sangat berharga dari apapun, bahkan lebih daripada profesi guru sendiri. Selain daripada itu, semboyang KHD dalam kehidupan Pendidikan yang dikenal ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Semoboyang ini menjadi semboyang Pendidikan Indonesia. Maknanya, bahwa seorang pendidik harus dapat menjadi pendorong, penyemangat dan teladan bagi murid-muridnya.



Pandangan Ki Hadjar Dewantara, membedakan antara Pengajaran dan Pendidikan. Pengajaran (onderwijs) adalah proses mentransfer ilmu kepada peserta didik, sedangkan Pendidikan lebih daripada itu. Pendidikan (Opvoeding) yaitu pendidik harus menjadi teladan, penuntun dan pemberi contoh baik. Tujuan Pendidikan adalah memperbaiki laku murid (bukan dirinya) dan tumbuh kodratnya. Dalam hal ini, Ki Hadja Dewantara mengibaratkan Pendidikan itu seperti seorang pemilik ladan atau petani. Peran daripada pendidik untuk menyemai, menuntun, memeliharan tumbuh kembang daripada murid-muridnya. Peran pendidik bukan menjadi mesin cetak yang kebanyakan berlaku di sekolah-sekolah saat ini, yang membuat sesuatu untuk kehendak dirinya sendiri, tetapi pendidik menurut Ki Hadjar Dewantara hanya menjadi penuntun tumbuh kembangnya peserta didik. Setiap peserta didik sudah dibekali dengan kodrat kehidupan. Namun, tumbuh kembangnya kodrat tersebut menjadi lebih baik, peran pendidik menuntun, menyemai, memelihara dengan memberikan selalu semangat, dorongan serta menjadi contoh laku dalam kehidupan.

Proses “menuntun”, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. "Carilah hal kebaikan, namun ingat Indonesia memeliki budaya sendiri sebagai sumber belajar (KHD)". Artinya, mencari kebaikan merupakan hak seseorang dalam tumbuh kembang, namun kita harus berprinsip bahwa tidak semua kebaikan dalam dunia (kodrat zaman) sesuai dengan budaya kita atau kodrat hidup kita (kodrat alam). 

Tujuan Pendidikan daripada itu, mengembangkan Budi pekerti (Cipta /kognitif), Karya (Afektif) dan Karsa (Karya/psikomotorik)Tumbuh kembang anak juga sangat dipengaruhi tempat tumbuh kembangnya. Tempat utama Pendidikan yang paling baik dimulai dari keluarga. Keluarga menjadi ruang bagi anak untuk mendapatkan kasih sayang, teladan baik, tuntunan, dan pembentuk watak awal anak dari orang tua. Tempat kedua adalah sekolah. Peran daripada sekolah juga sangat penting. Mengembangkan kodrat anak untuk menjadi sosok yang dapat tumbuh menjadi pribadi yang baik menuju pada tempat ke tiga yaitu lingkungan. Sehingga, pembelajaran di sekolah mestinya pembelajaran yang berbasis kontekstual yaitu pemanfaatan lingkungan sebagai sumber atau menghubungan materi dengan lingkungan sekitar. Hal ini diberikan, karena tempat utama dan paling banyak pengaruhnya dalam kehidupan anak nantinya adalah lingkungan. Seperti pada pembelajaran 3 modul 1.1 Calon Guru Penggerak, mengidentifikasi prinsip pembelajaran dari pemikiran KHD yang sesuai dengan konteks daerah atau di sekolah. 

Mengintegrsasikan Pendidikan di sekolah dengan konkteks daerah tentunya sesuatu yang sangat bagus. Setiap daerah memiliki kearifan lokal masing-masing. Pentingnya, bukan hanya untuk mengenalkan kembali kepada peserta didik, terlebih bahwa anak tumbuh dengan kodrat alamnya masing-masing sehingga kearifan lokal merupakan bagian penting dalam hidupnya untuk didalami dan tentunya untuk dijaga kelestariannya. Polewali Mandar kaya dengan budaya yang mengandung nilai-nilai sosial. Nilai-nilai sosial tersebut sangat relevan dengan 5 Nilai Utama Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dalam kurikulum 2013 yaitu Gotong royong, Mandiri, Nasionalis, Integritas dan Religius dan 6 indikator profil pelajar Pancasila yang digalakkan pemerintah saat ini. Bernalar kritis, kemandirian, kreatif, gotong-royong, kebinekaan global, berakhlak mulia. Nilai-nilai utama Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dan 6 Indikator profil pelajar Pancasila, apabila sudah menjadi bagian dalam kehidupan peserta didik, tentunya sudah menjadi peserta didik yang bertumbuh dengan baik dan menjadi pribadi yang bahagia sepanjang hayat.

Kekayaan budaya Polewali Mandar yang mengandung nilai-nilai sosial diantaranya:

1) Pepasang (pesan-pesan baik lewat lisan) namun dalam tuntutan dalam proses pembelajaran di sekolah, pepasang ini dapat diintegrasikan setiap pembelajaran di kelas dalam sebuah pajangan literasi/sudut-sudut baca di sekolah.

Muaq Massikolao Massikola Tonganoo, da Pangino ngino

Kalau Sekolah Sekolah yang benar, jangan main-main.

2). Kalindaqdaq (pantun mandar). Sebagian besar masyarakat hanya mengetahuinya sebagai pantun biasa, padahal Kalindaqdaq terdiri atas beberapa bagian. Terdapat Namanya Kalindaqdaq Pepatudu (pesan moral/baik). Namun, jenis Kalindaqdaq ini sudah jarang didengar, karena kebanyakan kegiatan, kalindaqdaq hanya digunakan pada acara Mappatammaq/kuda Pattuqduq itupun hanya menggunakan jenis kalindaqdaq pepalece atau romantis.

https://www.kompasiana.com/hamzah_ismail/5500b61aa33311e772511bb2/sekilas-tentang-saeyyang-pattuqduq-kuda-menari-di-tanah-mandar

3). Konsep Siwaliparriq (dalam konteks masyarakat yaitu gotong royong). Konsep ini sangat penting diterapkan dalam Pendidikan bahwa untuk mencapai kejayaan pentingnya ada konsep Siwaliparriq dalam sekolah. Contoh: https://travel.okezone.com/read/2016/11/30/406/1554879/uniknya-tradisi-mengangkat-rumah-di-sulawesi-barat

4). Nilai-nilai sosial dalam Mappatammaq sejalan dengan 5 nilai penguatan Pendidikan karakter.

5). Budaya Siriq (Malu) dan Taweq (permisi di depan orang lain) yang saat ini sudah mulai luntur nilainya dikalangan para pelajar. Kebanyakan anak sangat jarang menggunakan lagi budaya metaweq. Hal yang menjadi dasar juga, mestinya budaya metaweq ini harus berlaku pada semua kalangan, bukan pandangan hanya anak-anak yang harus metaweq kepada orang orang tua. Karena hal itu, keluar dari rana konsep Pendidikan KHD yaitu Tutwuri Handayani (teladan). Siriq pun demikian, sudah mulai bergeser nilainya.  Hasil belajar peserta didik seakan bukan lagi siriq bagi mereka. Sebagian besar acu tak acu dalam belajar, bahkan menganggap Ilmu bukan lagi bekal bagi hidup mereka, Ijazah menjadi tolak ukur dalam sekolah. Contoh: 

6) Semboyang Polewali Mandar Sipakalqbiq Sipakatau mestinya menjadi semboyang semua sekolah di Polewali Mandar Khususnya, bahwa setiap orang harus saling menghormati dan mengahargai. Banyaknya permasalahan yang tercatat dalam KPAI dan masalah lain di sekolah tidak terlepas dari tidak berjalannya rasa saling menghormati dan menghargai di sekolah. Guru dan murid semua memiliki masalah. Terdapat Guru melakukan kekerasa kepada muridnya dan paling mengkhawatirkan peserta didik menganiaya gurunya sendiri. Inilah bukti bahwa dalam pendidikan nilai-nilai Sipakalqbi dan Sipakatau sudah hilang.. 

Kekayaan kearifan lokal setiap daerah, mestinya berjalan sejalan dengan pengembangan kurikulum di sekolah. Dalam pembelajaran 4 modul 1.1, dapat menjadi kolaborasi yang sangat baik dari pemikiran KHD tentang Pendidikan dan pengajaran berbasis Kearifan Lokal. Konteks kolaborasi Pendidikan ini dapat menjadi pengetahuan dan pengalaman baru dalam Pendidikan dan pembelajaran di sekolah. Tentunya, ini akan menjadi pembelajaran yang selain menjadi pembelajaran Join full (menyenangkan) dengan konsep sekolah sebagai taman siswa juga menjadi pembelajaran meening full (Bermakna) dengan meneladanani pemikiran KHD tentang Pendidikan dan pengajaran untuk perkembangan peserta didik. 

Pendidikan adalah suatu proses yang tidak diam. Pendidikan harus terus berubah dan berkembang sesuai dengan kondisi zaman, dan juga kondisi peserta didik. Setiap sekolah memiliki kondisi dan permasalahan masing-masing, sehingga pengembangan satu sekolah dengan sekolah lain tidak benar-benar sama. Bagaimana cara untuk mengembangkan sekolah atau bahkan proses pendidikan di ruang kelas secara efektif? Ada asas yang dikenalkan oleh bapak pendidikan kita untuk melakukannya. Asas tersebut dinamankan dengan asas Trikon karena terdiri atas tiga asas yang berawalan “kon” yaitu kontinyu, konvergen dan konsentris. 

Kontinyu yaitu Pengembangan dilakukan dengan berkesinambungan, Konvergen yaitu Pengembangan mengambil dari berbagai sumber dari luar bahkan pendidikan dunia tetapi tetap menyesuaikan dengan budaya luhur bangsa Indonesia, dan Konsentris yaitu Pengembangan dilakukan berdasarkan Kepribadian sendiri (Kearifan Lokal). Asas trikon artinya Pendidikan harus secara terus menerus tanpa putus dengan mencari sumber dari berbagai sumber tetapi tetap berlandaskan budaya luhur bangsa dan kearifan lokal. 

Hal ini sesuai dengan konteks pada pembelajaran 5 modul 1.1 Calon Guru Penggerak Demonstrasi Kontekstual dan Belajar dari sekolah sesuai dengan prinsip Ki Hadja Dewantara dan nantinya dapat menjadi aksi nyata. Selanjutnya pada pembelajaran 6, mendapatkan sajian contoh sekolah berbasis KHD sekolah yang sangat menginspirasi dalam system Pendidikan dan pembelajaran yang berjalan di sekolahnya. SEKAR (Sekolah Cerdas Berkarakter) merupakan program unggulan daripada sekolah SMP 4 Pandak Daerah Istimewa Jogyakarta. Mudah-mudahan, nantinya sekolah kami dapat termotivasi untuk membangun sekolah menjadi lebih baik, tentunya Pendidikan dan pengajaran ala Ki Hadjar Dewantara, menjadikan sekolah sebagai Taman Siswa dan Sekolah Cerdas Berkarakter. Hal ini menjadi tantangan bagi saya pribadi sebagai Calon Guru Penggerak untuk membawa perubahan dalam sekolah melalui aksi nyata dalam proses Pendidikan dan pengajaran di sekolah.

"Inggai mammesa Niaq, mammesa eloq, mammesa kedo dilalang passikolangan, annaq mala mappajari to malaqbiq".

"Mari Menyatukan Niat, Menyatukan Keinginan, Menyatukan Perbuatan di dalam Pendidikan untuk mencetak manusia yang bermartabat"


Semangat Guru Penggerak, Salam Merdeka Belajar!



By: Kahar_SMP 5 Campalagian_CGP 2020_Polewali Mandar

 

 

 

 

2 komentar:

  1. mantap saudara.... salam dan bahagia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih pak, semoga menjadi sumber informasi yang bermanfaat.

      Hapus

PENGUMUMAN KELULUSAN SPENLI2022

SELAMAT ANDA TELAH SAMPAI PADA BATAS AKHIR DI JENJANG SMP. Semoga Perjalanan Kedepan Lebih Baik dari sebelumnya. Gagal adalah Sukses yang TE...